Berkebun bukan hanya menghilangkan stress tapi juga berguna bagi
kesehatan. Banyak eksekutif meluangkna waktu luangnya pada hobi ini.
Apa yang mereka cari?> Erika Putri
Bagi Onesias Fairyo, mantan Direktur utama Bank Papua, berkebun menjadi
kegiatan yang paling menyenangkan. Setiap akhir minggu, penampilan
formal sebagai eksekutif yang kini membawahi PT. Rakyat Papua Sejahtera
(PT. RPS) lenyap di hamparan kebun pinang.
Banyak orang yang merasa, berkebun bisa menjadi suatu hobi yang menarik
untuk ditekuni. Mereka mampu berjam-jam menata taman dan kebun di
belakang rumahnya sehingga menambah keindahan rumah. Ada juga yang
memang mempunyai kebun khusus yang dikelolanya sendiri. Seperti yang
dilakoni Onesias tadi.
Begitu pula pengalaman celebrity chef Jamie Oliver. Baginya hobi
berkebun sangat menyenangkan. Dalam memasak menu yang akan dimasaknya,
ia sering terlihat pergi ke halaman rumahnya. Tujuannya adalah untuk
mencabut sayuran yang akan dimasaknya. Jamie memang dikenal sebagai
chef yang suka berkebun.
Apa yang sebenarnya mereka cari? Tentu saja kepuasan tersendiri.
Berkebun memang bisa dikerjakan di waktu luang atau di saat libur.
Tempatnyapun bisa sangat sederhana. Dapat dikerjakan di sela-sela waktu
senggang dengan memanfaatkan halaman atau sudut ruangan. Apalagi
hasilnya berasal dari tumbuhan yang berguna. Misalnya buah-buahan,
bumbu dapur atau malah tanaman organik. Walaupun juga sangat
menyenangkan bila kebun dihuni rimbunan tanaman hias atau jenis
bunga-bungaan.
Beberapa selebritis juga mulai menekuni berkebun bahkan
membisniskannya. Sebut saja artis Melly Manuhutu. Berawal dari
mengkonsumsi sayuran dari kebun tetangga. Kini Melly mempunyai kebun
sendiri yang hasilnya di bisniskan ke restoran-restoran organik. Melly
mengaku belum untung besar memang tetapi bisnisnya terus berkembang
pesat.
Dari sejumlah penelitian, berkebun ternyata bisa sama dengan olahraga
dalam hal pembakaran kalori oleh tubuh. Setelah seharian berkebun
misalnya, tubuh tentu saja menjadi lelah. Bayangkan, dalam aktivitas
berkebun, seseorang mungkin harus memotong rumput, memangkas tanaman,
merapikan pot bunga, menanam bunga dan tanaman baru, mengganti tanaman
yang sudah layu, lalu memberi pupuk menyiram tanaman atau bahkan
memetik buah-buahan yang sudah matang?
Kegiatan- kegiatan ini tentu saja akan menguras energi dan membakar
banyak kalori dalam tubuh. Menurut penelitian, jumlah kalori yang
dibakar selama berkebun antara 280 kalori hingga 380 kalori per jam.
Atau bila dibandigkan dengan olehraga berlari, setara dengan jogging
selama 30 menit atau berlari dengan jarak 2,5 km. Lumayan bukan?
Terlepas dari itu, sejumlah pehobi ini merasakan banyak manfaat. Salah
satunya mampu menghindari penyakit. Selain itu, kondisi psikologis
disebut-sebut juga semakin bagus. Karena sekali lagi, berkebun
menurunkan tingkat stress.
Bagi penderita penyekit tertentu, sebut saja diabetes, banyaknya kalori
yang terbakar saat berkebun, akan berpengaruh langsung terhadap kadar
gula dalam tubuh. Jumlah gula karbohidrat yang terbakar akan cukup
banyak sehingga bagus untuk penderita diabetes.
Mahal atau murah?
Bagi sebagian orang, berkebun hobi yang mahal. Padahal siapapun
mengakui, berkebun salah satu kegiatan yang menyenangkan. Bagaimana
agar tidak mahal? Banyak caranya. Misalnya untuk bibit, bisa dibeli
bibit pada musimnya karena akan lebih murah dibandingkan bila kita
membelinya ketika bunga tersebut sedang tidak musim. Kemudian belialah
sesuai kebutuhan saja, jangan berlebihan,
Buat pupuk, bisa dipilih pupuk kompos atau pupuk dari tanaman. Karena
harganya lebih murah daripada pupuk buatan pabrik. Alat-alat untuk
berkebun memang tidak dapat dibilang murah namun bisa dicari di penjual
yang memang menjual perlengkapan berkebun yang berkualitas bagus dengan
harga murah.
Berkebun bahkan bisa murah meriah. Apalagi semuanya dapat diperoleh
dengan murah atau bahkan gratis. Salah satunya dapat mengganti jenis
tanaman sesuai yang kita inginkan dan ada disekitar. Jika ingin
berkebun sekalian dengan nilai ekonomis maka dapat berkebun dengan
tanaman sayur mayur, buah-buahan atau tanaman obat. Semuanya bisa
didapatkan dengan mudah dan murah.
Dari sisi media atau alat, pehobinya dapat saja membeli pot-pot yang
mewah dan mahal untuk berkebun. Tapi bisa dipastikan berkebun menjadi
hobi yang mahal. Bagi yang ingin berkebun dengan cara murah dan
mudah, dapat juga digunakan tanah biasa, tanah got atau pinggiran
selokan dapat sebagai media yang baik untuk penanaman.
Jika ingin memakai tanah biasa, dapat dicampurkan dengan pupuk kandang
atau pupuk kompos berasal dari tumbuh-tumbuhan. Untuk pot gunakan
kaleng bekas dengan kreativitas sendiri. Misalnya di hias dengan baik.
Untuk menjaga dari penyakit, dapat dibuat anti hama sendiri. Misalnya
mencampurkan 1-3 sendok amonia dan air maka kebun akan bebas serangan
serangga dan hama.
Manfaat berkebun tentu saja sangat luas. Selain membantu mempercepat
proses penyembuhan dari penyakit tadi, lingkungan yang asri di rumah
Anda akan berpengaruh terhadap lingkungan di sekitar bukan? Siapa tahu
hobi ini juga menular kepada para tetangga. ■
Memanfaat Lahan Kosong
Indonesia dikenal mempunyai tanah yang subur. Tidak heran aktivitas
berkebun sudah dikenal lama. Bahkan sejak nenek moyang. Sayangnya zaman
sekarang, berkebun di rumah mulai ramai hanya ketika salah satu bahan
makanan mulai sulit diperoleh. Sebut saja kasus cabai merah yang
beberapa waktu lalu harganya melangit.
Tetapi tidak semua orang melupakan aktivitas berkebun ini. Salah
satunya adalah Arsitek Ridwan Kamil. Arsitek ini menggagas ide
berkebun di lahan kosong yang terletak di Springhill, Kemayoran.
Organisasi yang diusungnya adalah “Indonesia Berkebun”. Aktivitas yang
mereka lakukan adalah bersatupadu menanam sayuran kangkung, singkong,
hingga pepaya di berbagai kota, termasuk Jakarta. Ini dilakukan oleh
para sukarelawan.
Di websitenya, Indonesia Berkebun adalah pilot project untuk
menciptakan lahan hijau di tengah kota yang juga memberikan manfaat
bagi komunitas sekitar. Programnya adalah menanam sayuran dan
buah-buahan, berkebun, dan panen bersama teman-teman dan keluarga
Menurut Ridwan Kamil, Jakarta sebagai kota dengan tingkat stress yang
tinggi tetapi tidak sinkron dengan pelestarian lingkungan. Kegiatan ini
mengambil konsep Urban Farming, yaitu usaha untuk memenuhi kebutuhan
pangan konsumen urban, dimulai dari proses produksi, pengolahan dan
distribusi yang dilakukan secara berkesinambungan. Usaha ini dilakukan
dengan memanfaatkan lahan atau tanah di perkotaan.
Mereka menyiapkan lahan dengan tiga unsur hara yaitu unsur hara makro,
N (nitrogen), P (fosfor), K (kalium). Ada juga unsur madya yaitu Ca
(kalsium), Mg (magnesium), S (sulfur), lalu unsur mikro yang terbagi
menjadi Fe (besi), Cu (tembaga), Zn (seng), Cl (khlor), B (boron), Mn
(mangan), dan Mo (molibdenum).
Unsur hara disebut sebagai ‘makanan alami’ tanaman yang diambil dari
tanah yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Unsur hara
juga bisa diperoleh dari urin manusia atau hewan kemudian dicampurkan
dengan abu gosok yang halus. Tujuannya agar kandungan N-nya tidak
hilang terbawa gas amoniak dan untuk menghilangkan bau. Unsur P &
K bisa juga dibuat dari batang pisang dan sabut kelapa yang direndam
selama dua minggu.■